Tampilkan postingan dengan label Referensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Referensi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Desember 2012

JAPANESE FUSHION SUSHI CLASS

Mhhh... sudah lama nih ga nimba ilmu di NCC. Terakhir ikutan kira-kira 6 bulan yang lalu, kursus cupcake fondant dan membuat barbie cake. Kayaknya sudah kangen nih mau belajar sesuatu yang baru. Mulailah browsing-browsing ke NCC, dan... membaca ada Japanese Sushi Class. Wah, boleh juga ini, it sounds interesting. Setelah konsultasi dan minta ijin sama ayahnya Aisha, termasuk "permohonan biaya kursus", langsung deh cepat-cepat mendaftar.

Pas hari H, ketika mau berangkat, si krucil nangis kepingin ikut. Padahal doi juga mau berangkat ke Ancol sama ayahnya ada acara Family Gathering Kecap Bango. Waduh, gimana dong... Terpaksa lah membujuk-bujuk sedikit...

Sampai di markas NCC jam menunjukkan pukul 9:15, dan kelas sudah dimulai. Ternyata peserta lagi sibuk mengupas-ngupas ketimun jepang. Alhamdulillah, untung belum ketinggalan lama...


Di kelas ini kita belajar fushion sushi, yaitu sushi yang sudah dimodifikasi dan disesuaikan dengan selera si pembuat. Jadi bukan sushi asli yang pakai bahan-bahan mentah gitu. Di fushion sushi, kita bebas berkreasi, mau pakai daging, ayam, udang, ikan atau bahan-bahan yang lainnya. Bisa dibilang tidak ada pakemnya seperti sushi original.

Materi yang diajarkan Ibu Fat di kelas ini meliputi:

1.  Nasi untuk sushi
2. Crispy cheese shusi
3. Tempura sushi
4. Crab stick sushi
5. Chicken stick sushi
6. Avocado sushi
7. Green dragon roll
8. Temaki

Senengnya waktu lihat sushi buatan kita tersusun rapih di kotak yang disediakan. Ada yang menggunakan udang, kepiting, ayam marinated, dll.


Alhamdulillah, nambah ilmu. Bisa jadi alternatif untuk Aisha sekolah, tetapi dengan bahan-bahan yang disesuaikan buat anak alergi. Horay...

Senin, 26 November 2012

ALERGI? YUK, KENALI TANDA-TANDANYA

Awalnya saya juga tidak mengetahui kalau Aisha mengidap alergi susu sapi. Hingga suatu saat saya mulai memperhatikan bahwa nafasnya sering terdengar "grok-grok", kotorannya berwarna hijau, sering muntah dan ia seringkali menangis meronta-ronta tanpa sebab yanyg jelas. Kemudian, sayapun memutuskan untuk memeriksakan Aisha karena khawatir jika ada kelainan di paru dan pencernaannya. Setelah menjalani pemeriksaan dan berkonsultasi dengan dokternya, barulah diketahui bahwa Aisha ternyata mengidap alergi susu sapi.

Sejak itu Aisha diharuskan mengkonsumsi susu Soya sebagai pengganti susu formula biasa. Dokter pun menjelaskan kepada saya "Do" dan "Don't" listnya penanganan Aisha sebagai anak alergi.

Belakangan, pada saat berkonsultasi dengan dr. Widodo Judarwanto, SpA., baru saya ketahui pula bahwa alergi ternyata memiliki dampak yang cukup besar kepada tumbuh kembang anak bila tidak dilakukan penanganan yang benar. Dampaknya antara lain: gangguan konsentrasi, keterlambatan bicara, gangguan sulit makan dan gangguan kenaikan berat badan, dsb. Untuk lebih jelasnya mengenai tanda alergi dan manifestasinya, silahkan baca langsung di web berikut ini:


Oh iya, menurut dr. Widodo nih, seringkali terjadi over diagnosa terhadap anak alergi sehingga dikatakan mengidap TBC. Karena memang anak alergi memperlihatkan gejala yang hampir sama dengan TBC, yaitu seringkali sakit batuk pilek. Kasian kan anak kita harus minum antibiotik untuk waktu yang panjang, padahal sebenarnya hanya alergi saja. Jadi, menurut dr. Widodo, kalau anak kita divonis mengidap TBC, lebih baik mencari second opinion dulu...

Nah, untuk para orang tua, coba mulai perhatikan, apakah ada tanda-tanda anak alergi pada anak anda...

Minggu, 25 November 2012

BERBURU RESEP MASAKAN ANAK ALERGI

Aisha termasuk anak yang mengidap "multiple alergi", dimana sementara ini diharuskan menghindari makanan dan minuman yang mengandung susu, cokelat, keju, telur dan semua turunannya. Jadi, bila bepergian, saya lebih memilih untuk membawa bekal makanan sendiri untuknya karena khawatir tidak tersedia makanan yang bersifat dairy-free dan egg-free. Selain itu, saya juga berusaha untuk sebisa mungkin menghindari penggunaan terigu untuk Aisha karena menurut buku yang saya pernah baca karangan Wid Widyanto, pakar makanan sehat, terigu memberikan efek kurang bagus untuk pencernaan anak bila dikonsumsi terlalu sering. Karenanya, saya lebih banyak mengacu kepada resep-resep masakan untuk anak alergi, autis dan vegan yang saya kombinasikan sesuai kebutuhan.


Sebagai anak alergi, Aisha juga diwanti-wanti untuk menghindari penggunaan bahan makanan yang mengandung pengawet dan penyedap rasa.  Jadi intinya, makanan Aisha harus fresh dan menyehatkan namun yang terpenting harus bisa bersahabat dan dapat diterima oleh tubuhnya.

Untuk menambah ilmu dan perbendaharaan resep, sayapun berburu buku-buku masakan untuk anak alergi, vegan dan autis. Namun sayangnya, di Indonesia buku-buku semacam ini masih sangat terbatas. Kalaupun ada, harus mencari di toko buku yang menjual buku-buku import, dan itupun jumlahnya hanya berkisar 1-2 buku saja. Biasanya, amazon.com menjadi rujukan utama saya. Buku jenis ini melimpah ruah di sana, dan terkadang membuat pening kepala karena bingung memutuskan pilihan. Atau cara lain yang lebih hemat dengan membuka web-web atau blog-blog untuk anak alergi, vegan dan autis. Web favorit saya adalah Manifest VeganGluten free girl and the chef dan juga Learning to eat allergy free. Dari sumber-sumber tersebut, saya mendapatkan banyak manfaat dan ilmu yang saya butuhkan dalam menyiapkan makanan untuk Aisha.

Kamis, 22 November 2012

DSA (DOKTER SPESIALIS ANAK) UNTUK AISHA

Sebagai orang tua yang memiliki anak, tentunya kesehatan dan tumbuh kembang anak menjadi prioritas utama kita. Menurut artikel yang pernah saya baca, salah satu faktor yang turut mempengaruhi adalah bagaimana orang tua memilih DSA untuk anak-anaknya. Untuk saya pribadi, dalam memilih DSA, saya lebih menyukai DSA yang terbilang "hemat" dalam pemberian obat, terutama antibiotik. Karena tidak jarang banyak DSA yang dengan gampangnya memberikan jenis antibiotik untuk anak yang hanya terkena batuk pilek biasa.

Ngomong-ngomong mengenai DSA, saya jadi teringat ketika saya dan keluarga baru saja pindah dari Surabaya ke Jakarta setahun yang lalu. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari DSA pengganti untuk Aisha. Saya harus memastikan bahwa DSA tersebut benar-benar memahami kondisi anak alergi. Ya, sejak bayi, Aisha telah didiagnosa mengidap alergi susu sapi dan belakangan juga diketahui alergi terhadap beberapa jenis makanan. Dr. Daniel Hardjadinata, SpA., yang menangani Aisha sejak bayi mengatakan bahwa alangkah lebih baik bila di Jakarta Aisha juga "dipegang" oleh seorang DSA yang khusus menangani anak-anak alergi.

Selanjutnya, dimulailah perburuan untuk menemukan DSA yang tepat untuk Aisha. Sayapun mengumpulkan daftar beberapa nama DSA khusus anak alergi di Jakarta. Setelah menyempatkan diri bertemu dengan DSA-DSA tersebut, pilihan saya pada akhirnya jatuh ke dr. Widodo Judarwanto, SpA. Kenapa saya memilih beliau? Karena saya merasa cocok untuk berkonsultasi dengannya. Pada saat konsultasi pertama, beliau memberikan informasi yang cukup komplit mengenai anak alergi. Bahkan ada beberapa kondisi yang saya temui di Aisha pada saat bayi, baru saya ketahui bahwa hal tersebut ternyata merupakan manifestasi dari alerginya. Selain itu, beliau juga sangat kooperatif, mau mendengarkan keluhan atau pertanyaan kita dan menjelaskan permasalahan anak alergi dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami. Walaupun jarak tempat prakteknya cukup jauh (beliau di RSIA Bunda, Menteng, sementara tempat tinggal saya di Jatikramat, Bekasi), namun saya merasa "it's worthed to give the effort" karena yang saya dapatkan jauh lebih berharga.

Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda menemukan DSA yang tepat bagi anak-anak anda? Apakah anda memiliki kriteria tertentu dalam memilih DSA?